Posts Tagged 'execution'

Telkomsel Paling Indonesia & Galaxy Crane

Client: Telkomsel Product: Corporate Agency: Leo Burnett Creative Director: Dodi Triaviandi Art Director: Dami Sidharta Copywriter: Hendra Ustriady Production House: Plush Executive Producer: Rolaand Tan Film Director: AK Post: VHQ Singapore

 

 

Seandainya ada matahari waktu shooting…

Shooting paling berdarah-darah yang pernah gw lakukan. 3 hari shooting + 1 hari weather contingency dibawah guyuran hujan… Bahkan beberapa shots dilakukan di dalam ruangan.

Proses pembuatan animasinya juga cukup bergelimang darah. Ini karena animasi dikerjakan di Singapur dan gw gak bisa ada di sana untuk waktu yang lama. Memang bisa kirim work in progress  lewat email, tapi tetap gak akan semudah, selancar, dan sejelas kalau kita ada langsung di sana. Datang ke post house ketika online present gak ngasih waktu yang cukup untuk kita bisa ngepush animasi sampai maksimal. Tapi ya… apa boleh juga… 🙂

Oh, ya! Di shooting kali ini juga gw nemu mainan baru. Phanter Galaxy Crane! Beda dengan Jimmy Jib yang biasa gw pakai, Galaxy Crane memungkinkan Director of Photography untuk naik ke atasnya dan mengoprasikan kamera secara langsung. Menurut Arief Pribadi, DP di iklan ini, penting untuk bisa mengoprasikan kamera langsung dari atas salah satunya karena bisa melihat langsung melalui view finder dan mendapatkan gambar yang akurat.  Dengan Jimmy Jib, DP hanya bisa melihat gambar dari bawah melalui monitor.

Mulai sekarang Jimmy Jib cuma layak untuk dokumentasi kawinan anak pejabat… Halah…

 

 

 

Advertisements

Telkomsel Siaga 2010 & Motion Control

Client: Telkomsel Product: SIAGA Agency: Leo Burnett Creative Director: Dodi Triaviandi Art Director: Dami Sidharta Copywriter: Hendra Ustriady Production House: SquareBox Executive Producer: Stella Seow Film Director: Bona Palma Music: Opick

 

 

Project pertama gw dengan Motion Control. Intinya sih, binatang ini memungkinkan kita mengambil gambar dengan pergerakan kamera yang presisi. Umum juga digunakan untuk mengambil beberapa elemen gambar dengan gerakan kamera yang sama, untuk nantinya digabungkan di post-production. Di iklan ini, Motion Control (mokon) gw pakai untuk membuat adegan transisi.

Pada saat persiapan, kamera digerakan secara manual dan gerakannya diprogram di komputer. Mokon akan merekam pergerakan tersebut dan mengulangnya ketika pengambilan gambar secara presisi. Adegan transisi dalam iklan ini, di mana talentnya berjalan menyebrangi frame untuk berpindah lokasi, dibuat dengan menggabungkan 2 gambar. Gambar pertama, talent A berjalan di lokasi 1. Gambar kedua, talent A berjalan di lokasi 2. Kedua pengambilan gambar dilakukan dengan gerakan kamera yang sama persis yang sudah diprogram. Di tahap post-production kedua gambar tsb digabungkan.

Yah kira-kira gitulah…

Sebenernya mokon memungkinkan kita untuk membuat adegan yang jauh lebih canggih. Apa yang gw lakukan di iklan ini cuma penggunaan paling sederhana dari fungsi mokon. Ini salah satu showreel motion control yang berhasil gw temukan. Enjoy!

 

Nike: Write The Future

World Cup 2010 ternyata gak menyuguhkan tontonan yang menarik. Miskin gol, inkonsisten, boring. France tunduk di kaki Mexico, Spanyol menyerah pada Swiss, German takluk pada Serbia, Italy, well… sudahlah… Semoga partai2 berikutnya akan ada perubahan. Tapi sambil menunggu itu terjadi, semoga campaign Write The Future dari Nike ini bisa sedikit mengobati kerinduan akan aksi spektakuler di lapangan…

Nike memang bukan sponsor resmi Piala Dunia, tapi campaignnya kali ini berhasil membawa semangat kompetisi 4 tahunan tersebut sampai ke level yang unexpected tanpa pernah sekalipun menyebutkan World Cup. Kalau di campaign Take It To The Next Level mereka menggunakan POV seorang atlit di eksekusinya, kali ini mereka menggunakan pendekatan yang sama, namun di aspek lain. Seakan kita menonton unspoken truth seorang Wayne Rooney. (Ah.. ngomong apa sih gw…)

Kalau di campaign sebelumnya, Take It To The Next Level, W+K menunjuk Guy Ritchy sebagai directornya, kali ini  W+K yang membesut Alejandro Gonzalez Inarritu (Amores Perros, Babel, 21 Grams). Hasilnya? Salut! Fresh, lucu, megah. Walaupun secara media agak konvensional, campaign ini tetap luar biasa.

Campaign ini juga disupport dengan Nike Academy. Academy pro-level milik Nike ini bekerja sama dengan English Premier League untuk menemukan bakat2 baru. Secara rutin melakukan latih tanding dengan tim2 besar eropa dan dipantau radar pelatih dan scouts terkenal. Dikemas dengan tajuk The Chance dengan endorser Arsene Wenger, Nike Academy menginspirasi pemain muda untuk seize the chance and write the future.

Well, Enjoy!

Jurang Antara Ide dan Hasil Akhir: Ivan HW

Beberapa hari yang lalu gw bongkar2 lagi inbox email gw, sekedar buat baca2 lagi diskusi2 lama di milis, … (Jadi inget kalo dulu gw pernah pinter…)

Nah, trus gw nemu email ini, diskusi tentang kenapa ide iklan2 kita yg secara ide banyak yang bagus tapi eksekusinya jauh ketinggalan dibanding iklan diluaran sana. Salah satu yang ikut diskusi waktu itu adalah Mas Ivan HW, Associate Creative Director di BBDO Singapore. Salah satu tulisannya waktu itu kembali ngingetin gw ke tulisan Erik Vervroegen yang dulu pernah gw post di blog ini bahwa perang yg sebenarnya itu bukan di shoot day tapi di persiapannya. Sebuah karya yang maksimal baru bisa dicapai dengan persiapan yang maksimal. Mulai dari penggalian ide sampai final pre-pro. Lebih jelasnya, ini dia petuahnya…

Ivan HW on “Jurang antara ide dan hasil akhir”
Friday, 12/22/06

Ketika aku barusan lulus ngak sabar pengin pergi ke photoshooting studio. Menurut pikiran aku dulu ‘the big day’ itu terjadinya waktu photoshooting, dimana aku harus bikin decision2 penting, dimana aku bakalan craft photographynya, dimana mati hidupnya ide terjadi di waktu itu, tapi ternyata aku salah. Photoshoot cuman menjalankan ‘teori’ yg ada waktu pre-pro. Kalo udah terbiasa dgn ‘melihat visual’ sebelum photoshoot
pasti waktu shooting paling2 1-2jam udah selesai. Waktu pre-pro adalah waktu ngak bisa tidur, waktu photoshoot itu waktu tidur hehhehe. Walaupun di agency aku ada 2 producer, aku lebih suka cari props sendiri. Dari wardrobe sampe detail2nya yg lain. (kalo ada waktu).

Alesan kenapa kerjaan probono SEHARUSNYA jauh lebih bagus dari ‘real’ karena deadline pre-pro buat ‘real works’ itu ditentukan oleh clients atau media schedule. Hasilnya terlalu banyak compromise. Contoh topi mancing ada lebih dari 10 tipe tapi maunya tipe 1 cuman adanya tipe 3, tipe 1 perlu 3 hari buat dibuat tp shoot besok, yah ngak papalah sama2 topi kok. Tapi probono deadlinenya ketika semua yg kita mau sampe sedetail2nya yg paling kecil udah kita dapet BARU kita shoot. Itu alesannya di portfolio award winners photographer selalu scamnya seperti million $ budget, iklan asli dgn budget luar biasa keliatan seperti tanpa budget ama sekali. Sering aku interview AD yg selalu bilang oh sorry ini scam ads makanya
eksekusinya gini soalnya ngak ada duit. Dalem hati.. masa sih.

Ketika pre-pro itu adalah waktunya ‘pushing eksekusi’, sebelum itu ada sketch. sketch adalah waktunya ‘pushing ideas’. Sketch tuh pentingnya luar biasa. Kalo ngak biasa sketch coba biasain.. pasti ngak nyesel. Pernah baca interviewnya erick (tbwa paris)? dia juga gila sketch hehehhe.. yah semoga bermanfaat.

ivan hw
ps: sketch tidak identik dgn jago gambar. tiap kali aku sketch tetep harus dijelasin lagi, soalnya ngak pernah ada yg ngerti apa yg aku sketch hehehhe. Sketch cuman membantu aku utk menvisualisasikan apa yg ada didlm otak biar kagak lupa.

Erik Vervroegen

Setelah ngikutin workshopnya John Merrifield kmaren, gw jadi inget sama seorang jagoan lagi yang juga dari TBWA. Erik Vervroegen the Lion Hunter.

Tentunya akan sangat telat kalo gw ngebahas dia sekarang… Bukan cuma tulisan ini udah dipublish tahun lalu di Campaign Brief Asia, tapi artikel itu juga berisi ceramah Erik di Asian Advertising Award di Bali tahun lalu… Basi kan… Tapi gw gak peduli… gw lebih gampang inget kalo gw udah nulis…

3 Tahun berturut-turut membawa agencynya sebagai Agency of theYear di Cannes dengan 2 grand prix, 12 gold, 12 silver, dan 9 bronze, gw rasa gak salah kalo gw sangat kagum sama ECD TBWA Paris ini. Rahasianya? Desire! Gitu katanya…. Hahahahaha….

Erik punya analogi menarik tentang iklan.

Bayangin seseorang baru aja pulang dari kantor setelah seharian kerja. Terjebak macet di jalan dan muterin blok rumahnya selama 2 jam nyari parkir. Cape’ dan bete (hmm rhyming..). Ketika dia sampai di rumah, ternyata istri dan anak2nya gak ada, jadi dia bebas ngelakuin apapun yang dia suka. So, dia mutusin untuk manjain dirinya dengan bikin burger yang dia suka, bir dingin, dan dia mulai terbenam di sofanya yang empuk. Dia ambil remote home theatrenya yang mewah dan masang film favoritnya. Baru aja dia mau mencet tombol “play” tiba-tiba.. “ding dong”.. Bel rumahnya berbunyi… Dengan kesalnya orang itu membuka pintu rumahnya dan ternyata tamunya adalah seorang salesman vacum cleaner!! Waak waaww……

Ya itulah iklan. Tamu gak diundang. Salesman itu cuma punya waktu 1 detik pertama untuk mencegah orang itu ngebanting pintu rumahnya. Sama seperti iklan, iklan cuma punya waktu 1 detik pertama untuk mencegah orang mindahin channel tv-nya atau ngebalik halaman majalahnya. Gimana caranya?

Simply by being well dressed!! Iklan harus seductive, welcoming. Or intriguing, astonishing. Even funny or touching. Yang pasti reaksi orang harus positif. Cara meningkatkan penampilan tadi disebut art direction.

Dan gimana caranya bikin first second ad?

Biasanya kita bisa ngeluarin ide 1-5 ide. Abis itu stuck! Hayo ngaku!! Nah, Erik Vervroegen nyuruh kita untuk ngebiasain ngeluarin 10-15 ide perhari. Dalam sebulan kita akan punya 300 ide!! Mungkin gak semuanya bagus. Tapi pasti ada paling nggak 1-2 ide yang bagus. Kalo gak ada berarti kita harus alih profesi. Mampus…. Dan saat kita nemuin ide yang bagus, kita harus terus push sampe ide itu jadi ide yang bener2 bagus!

Juga jangan terjebak dengan satu gaya beriklan. Biasanya seseorang akan punya gaya favoritnya sendiri, entah itu humor, mendayu-dayu, dll. Biasain untuk mencari dan nyoba gaya yang laen. Demo ad, beautiful ad, highjack ad, in front/behind ad, literal, guerilla, riddles, before/after, visual puns, bermain dengan media, copy heavy, big production, “UFO” ad, print ad filmed, comedy, beautiful story, parody, konseptual, dan masih banyak lagi gaya yang bisa kita coba. Jadi bukan cuma print ad visual puns tanpa copy dengan logo kecil di pojok kanan aja yang bisa disebut iklan.

Erik Vervroegen sendiri ngaku bahwa apa yang dia capai selama ini adalah berkat adanya suppliers yang luar biasa di Paris sana. Fotografer kelas dunia, retoucher tukang sulap, mock up artist multi talenta, dll. Makanya dia bisa bikin iklan yg gila-gila. Tapi untuk bisa bikin ide yang bener2 bagus tadi jadi award winning first second ad, Erik ngasih kita bocoran step by stepnya… Lebih mengarah untuk produksi print, tapi bisa diambil esensinya untuk produksi iklan apapun..

The Power of Pencil
Ide itu adanya di kepala, bukan di iMac lo yang sexy itu. Jadi biasain buat ngide pake pensil. Nulis, gambar, sketsa, semuanya bikin pake pensil. Setelah dapet ide yang bagus. Jangan langsung pindah ke komputer. Terus gali pake pensil. Cari cara eksekusi yang terbaik. Gambar dari beberapa angle berbeda sampe kita nemu yang paling baik.

Bring Realism to the Image
Setelah nemu yang paling pas, gambar ulang sketsa tadi dengan lebih realistis. Anatomi diperbaiki, perspektif dibenerin, dll agar gambarnya jadi realistis dan masuk akal untuk dieksekusi.

Comps/Photomontages
Ini baru bagiannya si sexy iMac tadi. Buka situs foto andalan, download bahan2 yang dibutuhin dan rakit semuanya jadi layout print ad sedekat mungkin dengan hasil akhir yang kita inginkan sebagai acuan saat shooting biar gak terjadi hal2 diluar perkiraan. Hal ini bukan cuma buat nentuin layout, komposisi, lighting, atau warna, tapi juga buat nentuin pemilihan properti, wardrobe, cast, dll. Biasain untuk bikin biography untuk setiap karakter yg ada di layout tsb biar kita bisa tau baju apa yg cocok, sepatunya seperti apa, rumahnya seperti apa, rambutnya, make upnya, dll. Layout yang detail akan ngebantu kita kerja sama dengan para suppliers dan klien. Gak ada tawar menawar, just follow the layout.

Shooting
Karena objectivenya udah jelas: follow the layout! Jadi apa yang kita lakuin di saat shooting adalah ambil sebanyak dan sevariatif mungkin foto. Setelah sesi ini semuanya udah terlambat. Jadi persiapin semuanya sebaik mungkin dan stock foto ssebanyak dan sevariatif mungkin.

Retouch Before Retouching
Setelah shooting selesai, jangan lupa untuk minta semua foto yang diambil. Art Director wajib untuk milih setiap komponen foto sendiri dan ngomposisiin semuanya sampai jadi reference yang sempurna buat retouchernya nanti. Baru setelah itu selesai, retouching bisa dialihkan pada tukang2 sulap DI artist itu. Perhatiin setiap detail, tongkrongin dia di depan komputernya kalau memungkinkan.

Colorwork
Setelah semuanya terkomposisi rapi, saatnya ngatur warna dan lighting. Tujuannya cuma satu, pastiin komposisi ini jadi the best it can be dengan maenin cahaya, dept, dimensi, gelap/terang, foreground/background, dll. Gambar ini bukan cuma harus indah, tapi juga bisa dengan mudah dilihat, dibaca, dan dimengerti.

Layout
Terakhir adalah membuat layout terbaik. cari the most impactful crop, typeface yg paling menarik, dan perbandingan terbaik antara visual dan copy. Buat sebanyak-banyaknya sampai kita nemu yang terbaik. Kalau bingung, bikin poling untuk mutusin yang mana yang most likeable.

Step2 diatas adalah langkah2 yang amat sangat basi tapi kita sering lupa atau sepelein. Cuma sekedar buat ngingetin aja. Soalnya gw sendiri sering lupa atau males.. hehehehehe…

Erik Vervroegen punya gaya yang cukup radikal. Coba liat interviewnya di ihaveanidea.org. Bos yang pasti sangat nakutin. Erik sendiri sadar bahwa dia kadang terlalu keras ngepush timnya, tapi saat TBWA Paris jadi agency of the year di Cannes, bahkan 3 kali berturut2, timnya cuma bisa diem… hahahahaha…

Well, orang yang sangat luar biasa.. Erik juga bilang, untuk bisa bikin karya yang terbaik, lo cuma harus fokus sama kerjaan lo. Jangan mikirin duit, jangan berpolitik, jangan punya keluarga (hahahaha…), pokoknya fokus. Gimana? gampang kan? Hahahahahahaha


Blog Stats

  • 40,768 hits

DON’T ASK ME TO SHUT UP

"Advertising is the most fun you can have with your clothes on".

Ya, ini blog iklan. Berisi opini, pujian, dan mungkin hinaan. Gak semuanya benar, gak wajib didengar, tapi jangan dibungkam. Sekedar belajar, ditulis biar gw inget, dipublish biar berguna.

NOTE: Pilih kategori dari sidebar untuk memudahkan menemukan artikel yang dicari :)

Follow me on Twitter

Categories