Archive for the 'People' Category

Pak B dan Pak P

 

Siapa coba?

Siapa coba?

3 tahun yang lalu gw menggambar ini ketika prepro dengan 2 orang klien gw. Ada yang bisa tebak siapa mereka? Mungkin sekarang mereka klien kamu…

Advertisements

Common Craft

 

Menyusul post tentang Twitter Partners, kalau kamu ga ngerti post tsb. mungkin kamu perlu nonton ini dulu.

Satu hal menarik tentang video ini, video yang sangat informatif dan ringan ini dibuat oleh Common Craft. Perusahaan yang berisi suami istri Lee dan Sachi LeFever. Di websitenya mereka menulis: “Our product is explanation”. Yup, mereka membuat video yang berisi penjelasan tentang berbagai hal, dengan bahasa manusia (masih bahasa kresten sih), dan dengan analogi2 yang mudah dimengerti. 

Selain membuat video2 tentang tema2 yang umum dan “iseng-iseng”, Common Craft juga mulai membuat custom video sesuai pesanan klien. Google, Microsoft, sampai California School Financing pernah menggunakan jasa mereka. Sampai suatu titik di mana permintaan semakin banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti menerima pesanan dari klien, khususnya promotional video. Selain karena mereka ingin lebih fokus ke bidang edukasi, mereka juga tidak mau mengubah komposisi perusahaan yang cuma berisi 2 orang tsb. Salut! Sekarang mereka membuat Common Craft Explainer Network dimana isinya adalah produser custom explanatory videos yang “masih” bisa di-hire.

 Bukan cuma permainan whiteboard dan paperworknya, atau cara mereka menjelaskan, tapi terobosan, inovasi bisnis dan idealismenya menginspirasi banyak orang.

Jurang Antara Ide dan Hasil Akhir: Ivan HW

Beberapa hari yang lalu gw bongkar2 lagi inbox email gw, sekedar buat baca2 lagi diskusi2 lama di milis, … (Jadi inget kalo dulu gw pernah pinter…)

Nah, trus gw nemu email ini, diskusi tentang kenapa ide iklan2 kita yg secara ide banyak yang bagus tapi eksekusinya jauh ketinggalan dibanding iklan diluaran sana. Salah satu yang ikut diskusi waktu itu adalah Mas Ivan HW, Associate Creative Director di BBDO Singapore. Salah satu tulisannya waktu itu kembali ngingetin gw ke tulisan Erik Vervroegen yang dulu pernah gw post di blog ini bahwa perang yg sebenarnya itu bukan di shoot day tapi di persiapannya. Sebuah karya yang maksimal baru bisa dicapai dengan persiapan yang maksimal. Mulai dari penggalian ide sampai final pre-pro. Lebih jelasnya, ini dia petuahnya…

Ivan HW on “Jurang antara ide dan hasil akhir”
Friday, 12/22/06

Ketika aku barusan lulus ngak sabar pengin pergi ke photoshooting studio. Menurut pikiran aku dulu ‘the big day’ itu terjadinya waktu photoshooting, dimana aku harus bikin decision2 penting, dimana aku bakalan craft photographynya, dimana mati hidupnya ide terjadi di waktu itu, tapi ternyata aku salah. Photoshoot cuman menjalankan ‘teori’ yg ada waktu pre-pro. Kalo udah terbiasa dgn ‘melihat visual’ sebelum photoshoot
pasti waktu shooting paling2 1-2jam udah selesai. Waktu pre-pro adalah waktu ngak bisa tidur, waktu photoshoot itu waktu tidur hehhehe. Walaupun di agency aku ada 2 producer, aku lebih suka cari props sendiri. Dari wardrobe sampe detail2nya yg lain. (kalo ada waktu).

Alesan kenapa kerjaan probono SEHARUSNYA jauh lebih bagus dari ‘real’ karena deadline pre-pro buat ‘real works’ itu ditentukan oleh clients atau media schedule. Hasilnya terlalu banyak compromise. Contoh topi mancing ada lebih dari 10 tipe tapi maunya tipe 1 cuman adanya tipe 3, tipe 1 perlu 3 hari buat dibuat tp shoot besok, yah ngak papalah sama2 topi kok. Tapi probono deadlinenya ketika semua yg kita mau sampe sedetail2nya yg paling kecil udah kita dapet BARU kita shoot. Itu alesannya di portfolio award winners photographer selalu scamnya seperti million $ budget, iklan asli dgn budget luar biasa keliatan seperti tanpa budget ama sekali. Sering aku interview AD yg selalu bilang oh sorry ini scam ads makanya
eksekusinya gini soalnya ngak ada duit. Dalem hati.. masa sih.

Ketika pre-pro itu adalah waktunya ‘pushing eksekusi’, sebelum itu ada sketch. sketch adalah waktunya ‘pushing ideas’. Sketch tuh pentingnya luar biasa. Kalo ngak biasa sketch coba biasain.. pasti ngak nyesel. Pernah baca interviewnya erick (tbwa paris)? dia juga gila sketch hehehhe.. yah semoga bermanfaat.

ivan hw
ps: sketch tidak identik dgn jago gambar. tiap kali aku sketch tetep harus dijelasin lagi, soalnya ngak pernah ada yg ngerti apa yg aku sketch hehehhe. Sketch cuman membantu aku utk menvisualisasikan apa yg ada didlm otak biar kagak lupa.

Tyas Paramita: Seorang Teman

(primary picture di FSnya Tyas) 

 

(Entry gw bareng Tyas di pinasthika 2006 yg di diskualifikasi) 

 

“Gara-gara elo sih, Dam.”, katanya waktu kita berdua didiskualifikasi di pinasthika ad student 2006 gara-gara gw ketahuan kalo baru aja lulus kuliah. Hahahahahaha…. 

16 oktober kemaren, Tyas pergi ninggalin gw. Ninggalin kita semua.

Selamat jalan, Yas. Makasih pernah mampir dalam hidup gw. Lo gak pernah berhenti bikin gw kagum. Maaf gw gak bisa bawa lo ke final pinasthika.

I love you always…

 

Erik Vervroegen

Setelah ngikutin workshopnya John Merrifield kmaren, gw jadi inget sama seorang jagoan lagi yang juga dari TBWA. Erik Vervroegen the Lion Hunter.

Tentunya akan sangat telat kalo gw ngebahas dia sekarang… Bukan cuma tulisan ini udah dipublish tahun lalu di Campaign Brief Asia, tapi artikel itu juga berisi ceramah Erik di Asian Advertising Award di Bali tahun lalu… Basi kan… Tapi gw gak peduli… gw lebih gampang inget kalo gw udah nulis…

3 Tahun berturut-turut membawa agencynya sebagai Agency of theYear di Cannes dengan 2 grand prix, 12 gold, 12 silver, dan 9 bronze, gw rasa gak salah kalo gw sangat kagum sama ECD TBWA Paris ini. Rahasianya? Desire! Gitu katanya…. Hahahahaha….

Erik punya analogi menarik tentang iklan.

Bayangin seseorang baru aja pulang dari kantor setelah seharian kerja. Terjebak macet di jalan dan muterin blok rumahnya selama 2 jam nyari parkir. Cape’ dan bete (hmm rhyming..). Ketika dia sampai di rumah, ternyata istri dan anak2nya gak ada, jadi dia bebas ngelakuin apapun yang dia suka. So, dia mutusin untuk manjain dirinya dengan bikin burger yang dia suka, bir dingin, dan dia mulai terbenam di sofanya yang empuk. Dia ambil remote home theatrenya yang mewah dan masang film favoritnya. Baru aja dia mau mencet tombol “play” tiba-tiba.. “ding dong”.. Bel rumahnya berbunyi… Dengan kesalnya orang itu membuka pintu rumahnya dan ternyata tamunya adalah seorang salesman vacum cleaner!! Waak waaww……

Ya itulah iklan. Tamu gak diundang. Salesman itu cuma punya waktu 1 detik pertama untuk mencegah orang itu ngebanting pintu rumahnya. Sama seperti iklan, iklan cuma punya waktu 1 detik pertama untuk mencegah orang mindahin channel tv-nya atau ngebalik halaman majalahnya. Gimana caranya?

Simply by being well dressed!! Iklan harus seductive, welcoming. Or intriguing, astonishing. Even funny or touching. Yang pasti reaksi orang harus positif. Cara meningkatkan penampilan tadi disebut art direction.

Dan gimana caranya bikin first second ad?

Biasanya kita bisa ngeluarin ide 1-5 ide. Abis itu stuck! Hayo ngaku!! Nah, Erik Vervroegen nyuruh kita untuk ngebiasain ngeluarin 10-15 ide perhari. Dalam sebulan kita akan punya 300 ide!! Mungkin gak semuanya bagus. Tapi pasti ada paling nggak 1-2 ide yang bagus. Kalo gak ada berarti kita harus alih profesi. Mampus…. Dan saat kita nemuin ide yang bagus, kita harus terus push sampe ide itu jadi ide yang bener2 bagus!

Juga jangan terjebak dengan satu gaya beriklan. Biasanya seseorang akan punya gaya favoritnya sendiri, entah itu humor, mendayu-dayu, dll. Biasain untuk mencari dan nyoba gaya yang laen. Demo ad, beautiful ad, highjack ad, in front/behind ad, literal, guerilla, riddles, before/after, visual puns, bermain dengan media, copy heavy, big production, “UFO” ad, print ad filmed, comedy, beautiful story, parody, konseptual, dan masih banyak lagi gaya yang bisa kita coba. Jadi bukan cuma print ad visual puns tanpa copy dengan logo kecil di pojok kanan aja yang bisa disebut iklan.

Erik Vervroegen sendiri ngaku bahwa apa yang dia capai selama ini adalah berkat adanya suppliers yang luar biasa di Paris sana. Fotografer kelas dunia, retoucher tukang sulap, mock up artist multi talenta, dll. Makanya dia bisa bikin iklan yg gila-gila. Tapi untuk bisa bikin ide yang bener2 bagus tadi jadi award winning first second ad, Erik ngasih kita bocoran step by stepnya… Lebih mengarah untuk produksi print, tapi bisa diambil esensinya untuk produksi iklan apapun..

The Power of Pencil
Ide itu adanya di kepala, bukan di iMac lo yang sexy itu. Jadi biasain buat ngide pake pensil. Nulis, gambar, sketsa, semuanya bikin pake pensil. Setelah dapet ide yang bagus. Jangan langsung pindah ke komputer. Terus gali pake pensil. Cari cara eksekusi yang terbaik. Gambar dari beberapa angle berbeda sampe kita nemu yang paling baik.

Bring Realism to the Image
Setelah nemu yang paling pas, gambar ulang sketsa tadi dengan lebih realistis. Anatomi diperbaiki, perspektif dibenerin, dll agar gambarnya jadi realistis dan masuk akal untuk dieksekusi.

Comps/Photomontages
Ini baru bagiannya si sexy iMac tadi. Buka situs foto andalan, download bahan2 yang dibutuhin dan rakit semuanya jadi layout print ad sedekat mungkin dengan hasil akhir yang kita inginkan sebagai acuan saat shooting biar gak terjadi hal2 diluar perkiraan. Hal ini bukan cuma buat nentuin layout, komposisi, lighting, atau warna, tapi juga buat nentuin pemilihan properti, wardrobe, cast, dll. Biasain untuk bikin biography untuk setiap karakter yg ada di layout tsb biar kita bisa tau baju apa yg cocok, sepatunya seperti apa, rumahnya seperti apa, rambutnya, make upnya, dll. Layout yang detail akan ngebantu kita kerja sama dengan para suppliers dan klien. Gak ada tawar menawar, just follow the layout.

Shooting
Karena objectivenya udah jelas: follow the layout! Jadi apa yang kita lakuin di saat shooting adalah ambil sebanyak dan sevariatif mungkin foto. Setelah sesi ini semuanya udah terlambat. Jadi persiapin semuanya sebaik mungkin dan stock foto ssebanyak dan sevariatif mungkin.

Retouch Before Retouching
Setelah shooting selesai, jangan lupa untuk minta semua foto yang diambil. Art Director wajib untuk milih setiap komponen foto sendiri dan ngomposisiin semuanya sampai jadi reference yang sempurna buat retouchernya nanti. Baru setelah itu selesai, retouching bisa dialihkan pada tukang2 sulap DI artist itu. Perhatiin setiap detail, tongkrongin dia di depan komputernya kalau memungkinkan.

Colorwork
Setelah semuanya terkomposisi rapi, saatnya ngatur warna dan lighting. Tujuannya cuma satu, pastiin komposisi ini jadi the best it can be dengan maenin cahaya, dept, dimensi, gelap/terang, foreground/background, dll. Gambar ini bukan cuma harus indah, tapi juga bisa dengan mudah dilihat, dibaca, dan dimengerti.

Layout
Terakhir adalah membuat layout terbaik. cari the most impactful crop, typeface yg paling menarik, dan perbandingan terbaik antara visual dan copy. Buat sebanyak-banyaknya sampai kita nemu yang terbaik. Kalau bingung, bikin poling untuk mutusin yang mana yang most likeable.

Step2 diatas adalah langkah2 yang amat sangat basi tapi kita sering lupa atau sepelein. Cuma sekedar buat ngingetin aja. Soalnya gw sendiri sering lupa atau males.. hehehehehe…

Erik Vervroegen punya gaya yang cukup radikal. Coba liat interviewnya di ihaveanidea.org. Bos yang pasti sangat nakutin. Erik sendiri sadar bahwa dia kadang terlalu keras ngepush timnya, tapi saat TBWA Paris jadi agency of the year di Cannes, bahkan 3 kali berturut2, timnya cuma bisa diem… hahahahaha…

Well, orang yang sangat luar biasa.. Erik juga bilang, untuk bisa bikin karya yang terbaik, lo cuma harus fokus sama kerjaan lo. Jangan mikirin duit, jangan berpolitik, jangan punya keluarga (hahahaha…), pokoknya fokus. Gimana? gampang kan? Hahahahahahaha

I want you! To be my jr. art director

Khusus buat mahasiswa yang pengen kerja di periklanan.
Atau pengguran yang blom dapet kerjaan.
Atau penjual motor bekas yang pengen jadi orang iklan (hahahahaha…)

Bukan… bukan.. Gw bukan buka agency dan lagi recruitment. Belum…

Menyusul wawancara dengan David Droga beberapa waktu yang lalau, barusan gw diberi kesempatan buat ngobrol sama Hakim Lubis, seorang creative director kondang di Jakarta. Dari beliau ini gw berhasil merangkum sebuah tips tentang “Apa yang diliat creative director dari fresh grader”… Sebuah tips buat ngelamar kerjaan di industri periklanan. Kira-kira isinya semacam panduan, tentang apa sih yang harus kita punya kalo mau kerja di periklanan…

Berikut ini rangkuman dari wawancara tersebut yang tentunya sudah gw manipulasi (gw edit maksudnya… soalnya panjang banget…). enjoy!!



Apaan sih yang diliat CD (creative director) kalo nyari orang baru…
Khususnya fresh graduate…

Isi otak & kreativititas jelas nomor satu….
Kedua confidence level, spontanitas, serta keberanian
Yang ketiga…setinggi apa cita-cita, ambisi dan dreams anak tersebut
Faktor terakhir ya hal-hal yang menyangkut non teknis….minta gaji brapa? tinggalnya jauh-dekat office, sehat atau tidak, dsb


 

Kalo yang pertama, diliatnya dari apa aja? porto, IPK, approachnya, apa ada yg laen? ada kriteria minimalnya misalnya?

Kalo gue, dan setahu gue juga banyak CD-CD lain yang sama pandangannya dengan gue:….fuck IPK! gue ga perlu IPK…ga ada gunanya…
Banyak banget anak yang IPKnya tinggi-tinggi, bahkan cumlaude tapi waktu kerja ancur, memble….
Gue cuma lihat dari porto hanya untuk sekilas aja…gue juga ga percaya porto…gue percaya indepth interview….kalo mau tahu lebih banyak soal intelektual/kreatifitas si fresh grad itu….bikin tes aja….
bikin tes bikin iklan lah…. Misalnya kaya’ tes masuk Ogilvy yang disuruh bikin iklan, targetnya orang yahudi, isi pesannya, “Hitler itu benar!”…



kalau approachnya waktu ngelamar bisa nentuin diterima atau nggak, ga? seberapa besar?

 

Sekarang ga terlalu lah…
End result yang penting….kalo jaman gue dulu sampe kira-kira lima tahun lalu kadang2 pengaruh banget cara kita kirim potfolio atau lamaran kerja….kalo sekarang kayaknya cd2 itu yang penting lihat isinya….
Menurut gue cukup bikin satu dvd reel aja, isinya port folio, cv dsb….



Oh ya? gw pikir cara itu masih berlaku. Dan gw kira lebih baik pake porto hard copy daripada bikin di CD… soalnya banyak orang yg terlalu sibuk buat liat CD….

 

Memang ada benarnya…. Tapi kadang-kadang anak2 fresh grad itu juga nggak puguh bikinnya…. Yang penting aneh doang… Padahal kan yang penting esensinya…
Bikin cara baru dong… Yang lebih out fo the box..
Misalnya lu kirim surat ke Roy Wisnu (CD-nya Ogilvy & Mather) tapi bukan melamar jadi art dir, tapi jadi supirnya, pasti surat lamaran lu dibuka sama dia….
Lu bisa jawab kalo ditanya kenapa , sebab lu bilang gue mau denger apa aja yang Mas Roy omongin setiap hari…ga cuma dikantor…..
Terus lu bilang…dari pada dia hired lu jadi supir, mendingan jadi art dir….hehehe
Lu bilang lulusan sekolah desain, ipk sekian, taro port folio elo sekalian, terus bilang pengen ngelamar jadi supirnya….gue yakin surat lu pasti dibaca….. hehehehehe…



Trus kalo yg nomer 2…
CD liat confidence level, spontanitas, serta keberanian darimana? dan soal apa?
Apa misalnya?

 

Macem-macem… Dari cara menjawab, gemeteran atau nggak? sistematis ga jawabannya… Atau ngawur ngga setiap kali bicara… Wawasannya gimana… Tiap cd pasti punya cara melihat hal ini…. Yang harus dilakukan oleh para fresh grad ya cuma be and do the best aja…..
Para cd itu sering mancing-mancing si anak ini kreatif atau ga, terus pintar atau ga dengan cara-cara atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban spontan….
Misalnya gini….. ada seorang anak gue interview….kira-kira setelah 10 menit dia gue suruh merem dan gue tanya apa yang dia captured dari ruangan gue…apa yang dia ingat….
Nah itu kan butuh spontanitas…ga bakal dia tahu gue punya pertanyaan kayak gitu….



Hhhmmm… semacam ngetes kepekan kita sama lingkungan sekitar ya….

 

Bukan cuma itu tapi kecepataan observasi, capturing the situation, the problems…


 

kalo keberanian? maksudnya apa?

Ada anak pintar, ketemu bule takut…ketemu klien grogi…berhadapan dengan orang banyak minder…
Soalnya nanti elu itu harus berani, berani take decision, berani mengambil keputusan soal mana yang bagus/ mana yang tepat dsb…


 

Nah kalo yg ketiga… soal cita-cita, ambisi dan dreams…. CD pengennya anak yang kaya’ gimana?

Gue paling benci anak yang jawab… “yah, saya mah giman air mengalir aja boss….”
Padahal yang namanya punya mimpi dan ambisi itu GRATIS, NGGA BAYAR!
Masa untuk sesuatu yang gratis dan ga bayar mereka ga berani….
Gue sudah ketemu ratusan orang yang gue interview…. banyak banget gue temuin orang pintar, kreatif, punya gagasan gemilangg tapi minderan, gugup, ga PD, males, ga punya cita-cita, ga punya ambisi….
Ada juga yang sebaliknya…. PDnya setengah mati, Inggrisnya deswey-desway cas cis cus lancar, gayanya keren tapi otaknya isinya air doang…..
Tapi yang dua-duanya ada juga banyak….



kalo soal punya cita-cita… apa cukup dengan gw pengen jd apa, kapan, atau ada maksud lain dengan kata “dreams”… trus yang ngebedain ‘punya mimpi’ sama ‘ngimpi’ apa?

Bedanya mimpi dengan cita-cita adalah….
Mimpi ga ada plan, kalo cita-cita ada plannya…
Gue sama PS (Paul Sidharta) mimpi punya stadion dan klub sepakbola, tapi ya cuma mimpi…ga ada plan atau langkah apapun yang kita buat menuju kesana…
Kalo cita-cita, misalnya bikin kantor sendiri….nah kalo yang itu kita punya lah plannya….
Itu bedanya mimpi dan cita-cita….
Kalo mimpi dan ngimpi sih sama aja…..
Pokoknya selama itu jadi cita-cita ya lu harus punya plan supaya cita-cita tersebut tercapai…..soal nanti tercapai atau ngga kan banyak faktornya….

 

Kalau buat kita, yang mahasiswa pengen outstanding, gak mau jadi orang rata-rata… Apa yang harus kita lakuin?

lu harus bener tahu apa kelebihan lu dan how you’ll sell it!
Misalnya lu ngerasa kelebihan lu jago ngomong atau presentasi. Lu harus gunain itu dan harus lu jadiin bahan jualan lu habis-habisan…
Sehabis present dengan cd, sang cd harus punya kesan bahwa…wah si dami ini jago banget ngomong ya….
Dia harus lu buat impress dengan kehebatan lu berbicara….

Dan tentunya, langkah pertama lo di industri harus bener.
Masuk ke agency yang CDnya pinter… Bisa ngebimbing lo di jalan yang benar…
Pinter bukan cuma intelektual, but more to achievement….
Gue bisa bilang ya orang kayak Mas Gandhi Dentsu, Didit BBDO, tentu saja Roy Wisnu lah….
Ndang Sutisna Euro RSCG, juga Randy Rinaldy Leo Burnett…

Oh ya, banyakin referensi soal periklanan, dalem dan luar negeri. Terutama buat sekolah-sekolah yang jauh dari Jakarta. Jangan berlindung dibalik nama besar sekolah… soalnya di industri ijazah ga penting banget…

 

*************  

 


 

 

Yah itu sedikit yang bisa gw bagi-bagi… sisanya… gw makan sendiri… hahahahaha…
Intinya… Kalau mau masuk industri iklan, kriteria dasar yang harus diperhatiin adalah:

1. Isi Otak (kreativitas dan wawasan)
2. Percaya diri, spontan, dan punya keberanian
3. Punya cita-cita (punya gairah buat terus berkembang)

Ok! Semoga berguna dan selamat berusaha!!
Kalau kata orang, jadi orang iklan itu kutukan. Semoga kita juga dikutuk jadi orang iklan…


Blog Stats

  • 40,768 hits

DON’T ASK ME TO SHUT UP

"Advertising is the most fun you can have with your clothes on".

Ya, ini blog iklan. Berisi opini, pujian, dan mungkin hinaan. Gak semuanya benar, gak wajib didengar, tapi jangan dibungkam. Sekedar belajar, ditulis biar gw inget, dipublish biar berguna.

NOTE: Pilih kategori dari sidebar untuk memudahkan menemukan artikel yang dicari :)

Follow me on Twitter

Categories